729x 90

Membangun Ekonomi Desa Kreatif, Untuk Indonesia Yang Lebih Baik

Membangun Ekonomi Desa Kreatif, Untuk Indonesia Yang Lebih Baik
Membangun Ekonomi Desa Kreatif, Untuk Indonesia Yang Lebih Baik

SOREANG | Jumat di awal Agustus lalu ( 04/08/17 ) saya mengikuti kegiatan Focus Group Discussion bersama PSDI ( Pusat Studi Desa Indonesia ) yang digelar di Hotel Sutan Raja, Soreang.
Lucu deh rasanya, mengingat dulu pertama kali ketemu sama PSDI adalah bulan Agustus juga. Eh ketemu lagi bulan Agustus lagi, dengan tahun yang berbeda tentunya. Kali ini saya hadir di acara yang dihadiri pula oleh kemenko, serta jajaran pemerintahan yang fokus membangun dan mengawal keberhasilan pembangunan di desa. Bersama itu pula hadir perwakilan dari 50 desa di kabupaten Bandung.

Desa Mandiri Dari BUMDES


Focus Group Discoussion

Pemerintah saat ini luar biasa baik hati, digelontorkannya dana ratusan juta untuk masing – masing desa di seluruh Indonesia, hal ini bukan tanpa tujuan tapi demi mendukung majunya ekonomi Indonesia yang berawal dari desa karena jika masyarakat desa sudah mandiri secara ekonomi maka pasti negara pertiwi ini pun mandiri. Tahun 2017 katanya pemerintah memberikan dana 800 juta untuk masing – masing desa untuk selanjutnya dikelola oleh BUMDES ( Badan Usaha Milik DESa ) pemanfaatan ini wajib transparan dan disusun berdasarkan skala prioritas, hadir di tengah – tengah FGD ini Bapak Sugeng selaku direktur pengembangan usaha ekonomi desa kementrian desa tertinggal. Yang mengemukakan juga 5 sektor usaha BUMDES diantaranya : Pemanfaatan sumber daya alam, industri pengolahan, jaringan distribusi, pelayanan publik dan mengembangkan kerjasama perbankan. Bapak Sugeng juga mengemukakan harapannya agar desa bisa mandiri selagi kesempatan dana masih ada, aktif mencari sumber ide pengembangan untuk kemandirian desa nya sesuai potensi masing – masing desa.


Bapak Sugeng, direktur pengembangan usaha ekonomi desa kementrian desa tertinggal

Selain dari pihak pemerintah, hadir juga Bapak Heri Siswanto ( bapak apa mas ya, soalnya masih muda :p ) dari PT. Crowde yang menjelaskan mengenai perusahaannya yang bergerak dibidang investasi. Crowde sebagai wadah investor yang ingin berinvestasi dibidang pertanian. Dan dengan begitu petani – petani di desa bisa mengembangkan lahan dan potensi. Ada pula perwakilan dari Transmart – Carefour yang menjelaskan tentang tata cara jika ingin produk desa masuk ke mall. Dari PT. Metrix Asia hadir juga perwakilannya yang menjelaskan mengenai teknologi vinyl house untuk budidaya kentang agar hasil yang didapat lebih bagus dan mampu bersaing dengan produk import, tak cuma itu PT. Metrix Asia ini akan membantu hingga penjualan kentang agar tak jatuh ke tangan tengkulak.

Gerakan 1000 Kampung


Bapak Bupati sedang membakar semangat para peserta untuk aktif memajukan ekonomi desa

Di tengah – tengah acara, hadir Bupati Bandung Bapak Dadang Nasser yang menjelaskan tentang adanya proyek 1000 kampung. Yang merupakan pengelompokan untuk kampung sesuai potensi yang dimilikinya, karena nyatanya ketika mampu dikelola dengan baik. Produk desa/kampung mampu bersaing, sebagai contoh adanya kampung topi yang hasil kerajinannya dipasarkan juga di Australia, juga kampung lainnya yang sedang dalam tahap pengembangan. Seperti : kampung tomat, kampung kopi, kampung agro, kamoung kuliner, kampung panorama, kampung kuliner, kampung jasa dan edukasi, dan nama – nama kampung lainnya.


Ngeksis dulu sama pak Bupati :D

Ketika Bapak Bupati menyampaikan hal ini, riuh sekali peserta menepukkan tangan. Sudah saatnya Indonesia kembali berjaya bukan, potensinya yang besar harus semakin digali dan tingkatkan. Miris ketika ada berita negara kita impor garam, padahal kita adalah bangsa maritim. Yang lautnya luas dan ada di mana – mana.

Kelemahan Negara Indonesia ini juga adalah kurangnya kreatifitas dari sumber daya manusianya, padahal jika mampu kreatif tentu ekonomi Indonesia akan lebih baik. Kalau ekonomi baik, otomatis seluruh rakyat sejahtera, kalau sejahtera udah pasti lebih adem ayem ya kan.
Inti dari permasalahan kurang mampunya ekonomi desa berkembang adalah karena kurangnya kreatifitas dan dana. Adanya dana desa sudah menjadi jawaban untuk satu permasalahan, tinggal SDM nya nih yang dilatih untuk berpikir luar. Kalau sumber daya alam Indonesia mah ga usah ditanya, tutur Bapak Hamdan selaku asisten deputi peningkatan daya saing ekonomi.

Acara keren ini padat banget ilmu, dan jadi ajang diskusi dan brain storming. Lucunya saya bertemu dengan pengurus desa di mana saya lahir dulu, ketemu temen SMP yang sekarang jadi aktivis lingkungan. Trus sebelah saya juga adalah pengurus desa di mana saya tinggal sekarang, semacam reuni deh jadinya tapi lebih berbobot obrolannya.

Indah rasanya, kalau kita bisa bertemu dengan orang – orang semangat dan memiliki visi yang sama untuk kepentingan orang banyak, acara ini terselenggara atas kerja keras dari tim PSDI tentunya. Makin keren dan semangat ya untuk membangun desa.

Oya jadi pengen sedikit cerita tentang petani, rata – rata petani ini kan didominasi oleh masyarakat desa yang umurnya 40 tahun ke atas ya, jarang banget nemu. Anak dan orangtuanya sama – sama petani, karena image nya yang ” buruh tani ” baik di lingkungan tempat saya tinggal sekarang maupun lingkungan tempat saya lahir, banyaknya anak – anak petani berprofesi sebagai karyawan. Seolah enggan meneruskan usaha orangtuanya berlumpur – lumpur ria mengurusi lahan tani.
Tapi zaman kan bergulir ya, membantu orangtua dan ikut aktif memajukan potensi desa tidak melulu harus dengan terjun ke lapangan, kita generasi milenial mah terjun yuk ke lapangan digital dan dunia maya, bantu sekitar dan komoditi desa memasarkannya lebih luas secara digital. Kalau Ibu Bapak kita menggiring hasil panen ke tengkulak, kita harus bertekad menggiringnya pada packaging yang layak jual di dunia digital, entah dengan media sosial atau dengan kerjasama marketplace. Ahh, greget deh.
Semoga saja ada pelatihan berkala semacam ini, bahwa mewariskan jiwa tani mencintai negeri bisa juga dengan menggiringnya dengan teknologi, bahwa kita generasi milenial digital ini bisa juga ikut andil dalam pengembangan desa mandiri.


Semangat membangun desa !

sumber : keponih.com

Azwar Aziz
Azwar Aziz
EDITOR

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked with *


0 Komentar

?>